Sekelumit 'sabda' dalam tulisan yang berisi saran, kritik, kontemplasi bahkan kemarahan atas kondisi realitas yang terjadi saat ini

Bangsa ini seakan tidak pernah kehabisan “masalah” yang hangat dibicarakan oleh media maupun individu. Berbedanya masalah yang diperdebatkan bangsa ini bukan sebuah masalah substansi tapi lebih cenderung “masalah sampah”. Meskipun kita harus akui bahwa Indonesia masih sebagai negara berkembang, namun sebagai sebuah negara merdeka dengan usia 60 tahun lebih dan berada dalam situasi era global sebenarnya kita harus cepat dewasa. Kita selalu berapologi dengan sejarah bangsa besar lainnya semisal  Amerika dan Inggris, yang mencapai kemakmuran dalam jangka waktu ratusan tahun. Kenapa kita tidak berpikir idealis sedikit, ketika bisa lebih cepat kenapa harus lama. Malaysia dan Vietnam menjadi contoh teranyar, mereka begitu maju bahkan terlihat tinggal landas perlahan-lahan meninggalkan bangsa ini jauh dibelakang, padahal sebelumnya mereka belajar kepada kita.

Malu rasanya ketika bangsa lain sudah memperdebatkan tentang global warming, penelitian (research), meningkatkan pelayan publik dengan teknologi. Namun kita masih membicarakan kemacetan, transportasi massal, jadwal kereta yang tidak tentu, bahkan cara mengusir penumpang di atas kereta. Namun dalam skala yang lebih luas, belakangan kita disuguhi perdebatan pembangunan gedung DPR yang supermewah dengan anggaran mencapai 1 triliun, kunjungan kerja DPR yang sering kontraproduktif, dan terakhir anggaran pembuatan website DPR yang mencapai 9,7 Milyar. Para pemimpin bangsa ini kadang memiliki hati dan perasaan bak batu karang, yang sering kali tidak memiliki empati terhadap kondisi rakyat yang masih banyak hidup di bawah garis kemiskinan. Bahkan sebagian besar bertahan hidup dengan pekerjaan yang tidak sesuai dengan latarbelakang  pendidikannya, dan berpenghasilan yang hanya cukup memenuhi kebutuhannya selama satu bulan. DPR yang seharusnya menjadi penyampai “lidah” rakyat kepada pemerintah, kadang cenderung menjadi duri yang menusuk dari belakang. Para pemimpin bangsa ini telah terkena virus materialistis dan hedonisme. Pengalaman dalam 2 dekade ini  menunjukkan, sebagian besar pemimpin bangsa memikirkan golongan dan keuntungan pribadinya dibandingkan bekerja untuk amanah dan tanggung jawab yang diembannya.

Masalah-masalah sampah di atas sebenarnya tidak mesti muncul kepermukaan seandainya mereka sadar dan tahu apa yang mereka lakukan untuk membangun bangsa ini dan mensejahterakan rakyat. Gedung DPR yang dibangun Soekarno masih cukup kokoh, kalaupun sekiranya harus ada yang direnovasi, buatlah anggaran yang “wajar” bukannya yang”kurang ajar”. Bukan rahasia lagi jika anggaran di Indonesia dibuat 2 sampai 3 kali lipat dari anggaran yang dibutuhkannya. Mengapa tidak ada bereakasi, karena yang menyusun dan melaksanakan anggaran bermental “maling” semuanya. Pembuatan website yang mencapai 9,7 Milyar membuat mahasiswa dan pelajar tertawa, karena menurut para pakar informatika pun dengan anggaran 100 juta saja, mereka mampu membuat sebuah website yang bagus dengan data email unlimited.  

Logika para pemimpin bangsa ini kadang sulit dicerna oleh rakyatnya, bahkan oleh anak SD sekalipun. Ketika kita sedang disuguhi “anggota dewan kita” yang dicemooh oleh pers Australia karena menggunakan email gratisan (pen:komisi8@yahoo.com), seorang anak didik yang sedang menikmati nasi kotak berkata kepada orang tuanya yang kebetulan juga seorang pendidik; warung nasi aja punya website, masa DPR ngga punya website. Masalah-masalah yang ada dinegeri ini kadang sering membuat dahi kita mengernyit, tidak kah mereka memiliki sebuah masalah yang lebih elegan untuk diperdebatkan berkenaan dengan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat atau memang jangan-jangan mereka tidak pernah memikirkannya ???

Advertisements

NEGERI ABU-ABU

Membaca Koran kompas Rabu, 11 Mei 2011 saya semakin skeptis dengan situasi dan kondisi bangsa ini. Seorang pelanggar lalu lintas yang sejak awal berniat mengikuti prosedur persidangan tanpa melibatkan calo ini akhirnya bertekuk lutut dihadapan oknum pengadilan yang meminta uang jalan pintas 150.000 atau menghadapi ancaman pasal yang dendanya mencapai ratusan juta rupiah. Karena ketidaktahuannya terhadap pasal-pasal tersebut dan “malas”nya berdebat dengan oknum yang tidak “berlogika dan arogan” akhirnya dia mengambil jalan pintas yang memang di “ditawarkan” oleh oknum tersebut. Saya pikir, banyak masyarakat yang mengalami kejadian seperti fenomena di atas. Niat awal mau mengikuti prosedur, tapi situasi yang tidak kondusif dan system yang masih carut-marut membuat mereka semua “secara sadar” melakukan perilaku-perilaku yang berlawanan dengan hukum.

Negeri ini memang  semakin berwarna abu-abu. Euphoria reformasi tahun 1998 hanya berlangsung sesaat dan moment tersebut telah kehilangan substansinya pada hari-hari ini. Negeri ini terus mundur ke belakang, perilaku nepotisme, kolusi dan korupsi kembali menjamur di semua lini pemerintahan. Kondisi ini diperparah dengan sikap para pemimpin negeri ini yang diam bahkan cenderung apatis terhadap situasi yang “mengerikan” ini. Keabu-abuan  negeri tercermin dalam semua bidang, tujuan pemerintah dalam jangka pendek, jangka panjang, penegakan hukum, penyusunan dan pelaksanaan anggaran, bahkan sampai pembuatan KTP dan Kartu Keluarga (KK) semuanya abu-abu. Secara umum tidak ada yang jelas dalam negeri ini, namun semuanya dapat diselesaikan lebih dengan uang. Uang begitu berkuasa untuk menyelesaikan perkara di negeri abu-abu ini. Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda ketika ditanya tentang pengurusan suatu administrasi yang berkaitan dengan pelayanan publik. Fenomena ini terjadi karena setiap orang menyelesaikan masalahnya sendiri-sendiri tanpa kejelasan aturan yang dibuat oleh para aparatur negara. Khusus yang berkaitan dengan pelayanan public, meskipun dalam beberapa tahun ini ada beberapa perubahan tapi tetap praktek-praktek pungli, keberadaan calo dan ketidakjelasan prosedur membuat system tersebut kembali terlihat abu-abu.

Namun herannya , semua pihak seakan menutup mata. Mereka tidak menyadari bahwa situasi ini akan menyeret bangsa ini ke dalam lembah kebobrokan yang pada akhirnya akan menghancurkan negeri ini perlahan-lahan. Para kepala pemerintahan dari lurah, camat, bupati, walikota, gubernur bahkan presiden terkesan tidak memiliki keinginan untuk memupus praktek-praktek di atas. Bahkan sebagian dari mereka terlihat menikmati keabu-abuan negeri ini untuk menumpuk harta kekayaan. Kita tdak mungkin menggantungkan asa lagi pada kepemimpinan SBY yang bak “Macan Ompong”. Tahun 2014 kita benar-benar telah urgen memerlukan reformis nasionalis sejati yang mau berkorban jiwa dan raganya untuk mereformasi negeri ini. Karena jika tidak ada sosok yang berani untuk merestorasi negeri, sepertinya negeri ini benar-benar akan berwarna abu-abu! (Jakarta, 12052011)

Sebelum saya mengurai tulisan ini, saya ingin membuka prolog tentang Ikatan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Kuningan (IPPMK), biar pembaca mengerti apa dan siapa IPPMK itu. Bagi sebagian aktivis ataupun pegawai Pemda Kuningan era tahun 70 dan 80-an, nama diatas mungkin sudah tidak asing lagi karena nama IPPMK pernah berkibar jaya pada tahun-tahun tersebut. Organisasi ini tepatnya berdiri di pada tanggal 09 September 1979. Namun memasuki tahun 1992 dibawah pimpinan Oba Rohmedi, IPPMK mengalami stagnasi yang cukup lama + 10 tahun hingga 2003. Baru pada medio tahun 2003, tepatnya 08 Juni 2003 bertempat di Gedung cawang Kencana, mahasiswa-mahasiswa Kuningan Se-Jadetabek yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Kuningan se-Jadetabek (FMKJ) mereorganisasi IPPMK kembali. Acara pelantikan dan pengukuhan pengurus 2003-2005 dihadiri langsung oleh Sesepuh Kuningan Bapak Drs H. Mashud Wisnusaputra.
Kota Kuningan bagi saya adalah satu kota mungil, indah dan memiliki berbagai potensi yang luar biasa dengan komunitas mayoritas masyarakat yang relatif progresif dalam cara berpikir (think) maupun dalam gaya hidup (way life). Indikasi progresivitas bisa kita lihat dalam beberapa aspek yang bagi saya merupakan salah satu anasir signifikan misalnya dalam nuansa kehidupan pedesaan yang tidak kalah jauh dengan situasi kota, desain rumah, gaya hidup dan cara pandang (perspective) mereka terhadap pentingnya pendidikan dan informasi. Bahkan saya pernah mendapatkan sebuah situasi yang cukup unik walaupun bagi saya fenomena tersebut untuk Kuningan bukan sesuatu yang mengherankan, yaitu sebuah desa yang berada di ujung Kuningan tepatnya Cirukem, Sedong, Cihirup, namun dilihat dari gaya hidup dan desain rumah, mereka layaknya orang kota dan rumahpun hampir menyerupai desain-desain rumah-rumah elit di Jakarta. Untuk mampu mengakses informasi yang lebih luas, saluran televisi mereka menggunakan perangkat parabola Indovision.
Kemudian sebuah fenomena paradoksal positif lainnya yang harus didukung dan disupport oleh berbagai pihak bahwa hasil pemantauan (khususnya untuk wilayah Jakarta) dari tahun-tahun semakin banyak pelajar-pelajar Kuningan yang melanjutkan jenjang pendidikannya hingga bangku kuliah walaupun sebenarnya orang tua mereka hanya tamatan Sekolah Rakyat (SR) bahkan kadang-kadang tidak lulus. Hal ini satu bukti bahwa urgensi, pemahaman dan penghargaan mereka terhadap dunia pendidikan dan pengetahuan sudah begitu tinggi.
Kemajuan dan cara pandang yang progresif diatas tidak terlepas dari jarak Kuningan dengan Ibu kota Negara Jakarta yang hanya cukup ditempuh + 4-5 jam perjalanan bus. Perkembangan dan kemajuan teknologi di ibu kota hanya dalam waktu yang cukup singkat bisa diakses secara cepat oleh masyarakat Kuningan. Situasi ini lebih jauh ditunjang oleh banyaknya masyarakat Kuningan yang memiliki mata pencaharian di Jakarta. Asumsi saya sampai hari ini hampir 40 % masyarakat Kuningan bermatapencaharian di kota metropolis. Tidak mengherankan dalam satu hari satu malam kurang lebih 100 bus pulang-pergi (PP) Jakarta—Kuningan. Menurut saya, itu semua merupakan satu aset dan potensi yang luar biasa bila diberdayakan secara maksimal.
Komunitas masyarakat Kuningan di Jakarta sangat beraneka ragam. Dilihat dari mata pencaharian pun sangat bermacam-macam pula. Mulai dari buruh kasar hingga Anggota legislatif pun ada. Bahkan sebagian mereka ada yang sudah menetap dan menjadi warga ibu kota. Karena telah lamanya mereka tinggal di kota, Jakarta sepertinya telah menjadi bagian dari hidupnya. Mereka cukup kesulitan ketika harus adaptasi hidup di kota mungil seperti Kuningan yang masih minim dengan fasilitas-fasilitas umum. Namun sebagai bukti kecintaannya pada tanah lelehur Hari Raya Idul Fitri menjadi momen suci/sakral sebagai implementasi kecintaan dan rasa bangganya menjadi orang Kuningan.
Sebagaimana telah diungkap diatas, mata pencaharian masyarakat Kuningan di Jakarta sangat beragam. Namun ada simbol-simbol khusus dan fenomena umum untuk masyarakat Kuningan di ibu kota jika kita mau melihat secara seksama. Fenomena ini bukan hanya pendapat yang termarginalkan, namun sebuah pendapat yang sudah di amini oleh seluruh komunitas masyarakat di Ibu kota. Fenomena tersebut adalah bahwa mayoritas orang Kuningan di Jakarta bergerak dalam usaha BRI. BRI ini tentunya bukan Bank Rakyat Indonesia namun sebuah stereotipe dari bubur, rokok dan indomie. Orang Kuningan yang bergerak dibidang ini jumlahnya cukup fantastis. Data terakhir yang bisa saya sampaikan walaupun bukan hasil survey bahwa pada Lebaran Idul fitri 1424 H (2003 M) kemarin, PT. Indofood Sukses Makmur yang tahun tersebut juga menyediakan mobil untuk mudik para pengusaha BRI. Tercatat PT. Indofood menyediakan kurang lebih 300 Bus HIBA UTAMA, dan sebanyak 170 bus tersebut mudik menuju Kuningan. Tentunya angka diatas yang melebihi batas 50 % dari total bus cukup monumental, lebih dari itu masih banyak lagi jumlah pedagang BRI yang pulang dengan mobil kesayangannya “Luragung Jaya atau Putra Luragung”, dan bukan mustahil angka tersebut akan terus meningkat pada tahun-tahun yang akan datang.
Fenomena Pengusaha Bubur Rokok Indomie (selanjutnya saya sebut BRI) diatas yang bertebaran di wilayah Jabotabek adalah komunal potensial dan merupakan aset daerah yang apabila diberdayakan dan dikoordinir secara optimal akan menghasilkan sebuah in put positif untuk daerah maupun komunitas itu sendiri. Selama ini, sepanjang yang saya tahu komunitas BRI selalu berjalan sendiri-sendiri. Artinya mereka tidak melakukan koordinasi antara satu sama lain. Biasanya usaha BRI yang mereka lakukan adalah “batonan” atau dengan kata lain join modal antara dua orang dan setiap pihak mendapat jatah dua bulan sekali untuk giliran memegang warung. Menurut pendapat beberapa Pedagang BRI, dengan sistem ini mereka lebih aman (safety) jika terjadi kerugian ataupun kebangkrutan (collaps), tinggal dibagi dua. Walaupun ada juga yang memiliki modal kuat, biasanya mereka membangun “imperium BRI”, dengan sekaligus membangun 3 sampai 4 warung BRI dilokasi yang berbeda dan menyuruh orang lain yang menungguinya dengan sistem bagi hasil. Sedangkan ia setiap bulannya hanya mengontrol dan mengambil bagiannya.
Sistem “batonan” hingga hari ini dinilai yang paling “manjur” sebab dengan bergilir dua bulan sekali mereka dengan bebas bisa merasakan dan menggunakan keuntungan selama dua bulan bersama anak istri. Coba pembaca bayangkan, alangkah indahnya, uang jerih payah dikota hasilnya digunakan didesa. Secara kalkulasi ekonomi, nilai uang tersebut akan berbeda ketika dibawa ke daerah. Sangat wajar, bila kita melihat mayoritas Jakartaan hidup sangat sejahtera dikampung halaman. Bahkan mereka mampu membangun rumah megah dan mengisinya dengan peralatan-peralatan modern, walaupun mereka tinggal didaerah yang cukup terisolasi, seperti Subang, Cibingbin, Ciwaru, Ciniru, Cimara dll. Menurut saya, itulah salah satu keunikan orang Kuningan dan sangat korelatif dengan adagium “Leutik-Leutik Kuda Kuningan”, walau kecil cukup bernyali dan pantang menyerah.
Namun bagi saya disamping kekaguman yang luar biasa terhadap putra-putra daerah yang berjuang pantang menyerah diantara himpitan ribuan manusia pencari nafkah di kota mentropolis, saya sedih dan kecewa kenapa mereka tidak mampu bergabung membangun kekuatan ekonomi dari komunitas BRI. Dengan jumlah pedagang yang diperkirakan ribuan, bukan hal yang mustahil jika Pemerintah Kabupaten Kuningan mampu mengkoordinir mereka secara optimal akan menghasilkan income PAD yang luar biasa besarnya.
Menurut hemat saya seiring perkembangan zaman dan teknologi cara usaha jenis apapun namanya harus dilakukan perubahan-perubahan secara gradual dalam pola manajemen, pemasaran sebagai bagian dari improvisasi merelevansikan diri dengan eranya. Kita harus ingat bahwa sesuatu yang kolot (konservatif) akan ditinggalkan oleh zamannya. Perubahan adalah sebuah keniscayaan apalagi dalam upaya mengarah pada tataran usaha yang lebih positif, kondusif serta progresif (maju) adalah sebuah keharusan. Sebuah usaha yang stagnan dan enggan mau melakukan perubahan-perubahan hanya akan tertinggal dan digantikan oleh model-model usaha baru yang lebih modern dan menyesuaikan dengan zamannya. Sejarah telah mencatat perubahan zaman begitu cepat, orang-orang yang lambat mengadaptasikan diri dengan kemajuan zaman pada akhirnya hanya akan tercatat sebagai penonton walaupun 5 tahun atau 10 tahun lalu ia sebagai pemain yang cukup brilian.
Hal inilah yang mendasari pemikiran saya untuk merencanakan pendirian Koperasi Bubur Kacang Ijo (KOBURJO) dengan langsung memohon restu Pemerintah Daerah sebagai patner pembangunan. Usaha koperasi ini nantinya akan bergerak dalam supply (penyediaan) barang dan simpan pinjam. Usaha pertama dalam upaya mengikis beban biaya dan waktu sehingga pedagang BRI bisa lebih konsen dalam berdagang. Sedangkan usaha kedua ini di planning untuk kesinambungan populasi BRI Kuningan, karena saya yakin sebenarnya banyak anak-anak muda kreatif yang sudah lama bergerak dalam usaha ini ingin memiliki “perusahaan BRI” sendiri namun karena terbentur dengan kendala finansial (baca: modal) semua harapan dan cita-citanya sirna, hanya menjadi bagian dari angan dan mimpinya. Dengan adanya usaha simpan pinjam yang tidak terlalu birokratif di KOBURJO ini, saya berharap mampu menolong dan menjembatani kesulitan mereka.
Tanpa pretensi apapun hanya tak lebih dari ingin menyolidkan kebersamaan dan menyatukan masyarakat Kuningan secara umum dan memudahkan pedagang BRI, saya dengan institusi Ikatan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Kuningan (IPPMK) se-Jadetabek dengan dukungan sesepuh dan senioren IPPMK di Jakarta berniat untuk merencanakan pendirian Koperasi Bubur Kacang Ijo (KOBURJO) Kuningan se-Jabotabek. Bahkan ketika kami menyampaikan proyek besar ini, Pemerintah Kabupaten Kuningan pun mendukung penuh proyek jangka panjang ini sebagai bagian dari pembelajaran bagi kami dan menyambungkan tali silaturahmi masyarakat Kuningan di ibu kota.
Cukup sulit memang merealisasikan cita-cita diatas, apalagi ada streotipe “Urang Kuningan ari diparantauan hese akur”. (entah siapa yang pencetus pertama stereotif ini, namun saya sering mendengar orang-orang Kuningan melontarkan nya dalam obrolan-obrolan ringan). Tapi bagi saya, itu semua menjadi tantangan tersendiri untuk ditaklukan, karena secara filosofi streotipe diatas memiliki makna konotasi yang sangat jelek dan tidak mendidik bahkan rentan dengan disintegrasi primordial.
Akhirnya dengan senantiasa berdoa dan tetap dibarengi dengan usaha, saya mengharapkan seluruh pihak bisa melihat niat ini secara proporsional. Sampai tulisan ini saya kirimkan ke redaksi, belum ada pihak personal, institusi swasta maupun pemerintah yang tergerak untuk berpartisipasi dalam mewujudkan cita-cita agung ini. Sebagai seorang mahasiswa/pemuda saya selalu mencita-citakan bahkan memimpikan segala sesuatu yang sangat ideal, tidak membumi kadang terkesan imajinatif. Karena saya mempunyai keyakinan bahwa “semua realitas kemanusiaan yang ada sekarang berawal dari sebuah mimpi yang dimanifestasikan”. Bertolak dari doa, mimpi, asa, cita bahkan imaji diatas, saya berkenan seluruh pihak bisa berpartisipasi mewujudkan harapan saya dan IPPMK diatas. Khususnya partisipasi aktif dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kuningan, para sesepuh, para senioren IPPMK dan yang tak kalah penting adalah respon positif dari para pedagang BRI. Di akhir paragraf ini saya hanya berdoa sebagaimana hadits Rasulullah SAW Semoga Allah SWT senantiasa mengiringi asumsi (dzan) hamba-hamba-Nya, amin. (2004)

Bila kita melakukan perjalanan dari Kota Cirebon menuju Kuningan, menjelang wilayah Desa Sindangkasih terasa hawa dan udara yang berbeda. Begitu segar, sejuk, di samping itu kita pun dimanjakan dengan pemandangan pepohonan rindang sepanjang ruas jalan. Bahkan bukan itu saja, kita pun dipertontonkan kegagahan Gunung Ciremai yang menjulang tinggi seakan menyentuh langit dan menjadi pengawal Kota Kuningan.
Rangkaian kata di atas bukan sekedar cerita dan dongeng tapi realitas sampai hari ini. Sudah sepatutnya kita bangga dianugrahi alam Kuningan yang memiliki panorama indah. Kekaguman bukan hanya muncul dari masyarakatnya tapi juga dari setiap orang yang pernah mengunjungi Kuningan. Bahkan beberapa pejabat tinggi Jakarta menyatakan kekagumannya saat mengunjungi Kuningan.
Namun dalam kesempatan ini kami tidak mengulas sisi eksotik Kuningan, tapi sebagaimana judul tulisan ini kita akan sejenak beromantisme dengan Adipura Kencana yang telah mengharumkan nama Kuningan ditingkat nasional. Namun lebih dari itu, Adipura Kencana ‘pernah’ merubah warna Kuningan menjadi kota yang bersih dan rapi. Sayangnya itu semua hanya berjalan sesaat, temporal, karena hilangnya sebuah substansi yang begitu penting. Mungkin untuk mampu mengetahui akar permasalahannya, kita harus memutar jarum waktu (flash back) untuk mengingat-ingat kembali bagaimana suasana Kuningan menjelang penilaian anugrah lambang kebanggaan setiap kota itu.
Semarak ketertiban dan keindahan kota begitu terlihat dominan di berbagai sudut kota menjelang penilaian untuk penghargaan Adipura Kencana. Keindahan dan kerapihan bukan hanya terlihat di jalur utama Jalan Raya Kuningan-Cirebon tapi seluruh pelosok Kuningan. Setiap desa, jalanannya terlihat bersih, tamannya tertata rapi, apalagi desa-desa yang wilayahnya berada dijalur jalan raya Kuningan-Cirebon. Gerakan K5 (Kebersihan, Ketertiban, Keindahan, Ketenteraman, dan Kenyamanan) dan Jum’at Bersih (Jumsih) terjadwal ketat dan selalu dikontrol oleh pihak desa, kecamatan bahkan sekali-sekali ada tim pengawas dari kabupaten.
Mungkin kalau penulis boleh berkomentar, “itulah idealnya Kota Kuningan”. Warganya begitu peduli pada kebersihan, aparat desanya rajin membantu sekaligus mengontrol kegiatan kebersihan masyarakat. Seluruh fasilitas dan bangunan-bangunan pemerintah yang terlihat kusam langsung diganti dengan “baju” yang baru. Sehingga benar-benar Kuningan menjadi Kota yang indah, nyaman didukung dengan hawa yang sejuk. Tepatlan bila pada medio bulan-bulan tersebut Kuningan bermotto Aman, Sehat, Rindang dan Indah (ASRI), karena semuanya terlihat begitu sempurna. Itulah situasi Kuningan menjelang penilaian untuk Piala Adipura Kencana. Dan memang semua pihak mengakui “ketangguhan” Kuningan dalam penganugerahan lambang kebanggaan setiap kota ini. Kuningan secara fantastis pernah meraihnya secara berturut-turut pada tahun 1993 dan 1994.
Sebagai warga Kuningan, kebanggaan atas penganugerahan itu tentu ada, namun sayangnya harus diselimuti oleh kekecewaan yang begitu dalam. Kekecewaan ini penulis tujukan kepada masyarakat tapi lebih-lebih lagi kepada Pemkab. Kuningan. Ironi atau mungkin sebuah paradoks apa yang terjadi pada diri penulis. Dua kondisi psikis yang berbeda menyatu dalam satu situasi secara bersamaan. Sebuah Kebanggaan lahir, karena Kuningan tercinta mampu meraih Piala Adipura Kencana sebagai lambang kota yang bersih. Namun kekecewaan pun lahir, karena masyarakat dan aparat antusias untuk menciptakan kebersihan dan kenyamanan kota hanya untuk sebuah prestasi, bukannya menjadi sebuah kebutuhan.
Tapi secara prinsip, penulis harus menyalahkan pihak Pemkab. Kuningan karena sebagai pemegang kebijakan dan otoritas tertinggi mengajarkan masyarakat kepada sebuah nilai prestasi bukan substansi. Sebuah pola pendidikan yang hanya pantas diajarkan kepada anak-anak pada level Taman Kanak-Kanak (TK) bukan kepada masyarakat. Selain itu, cara inipun adalah sisa-sisa ajaran kaum kolonial yang hanya memerintah ketika ada keinginan. Perintahnya tidak memiliki essensi apapun, hanya sebatas perintah yang bersifat nisbi, tapi ironinya kenapa kita masih terus mengejewantahkannya dalam keseharian kita, bahkan oleh aparat pemerintahan kita yang terdidik dan hidup di dunia modern. Masyarakat di haruskan membersihkan bahkan mengecat taman halaman rumah mereka menjelang penilaian Piala Adipura Kencana. Fasilitas-fasilitas umum begitu mendapat perhatian menjelang hari-hari tersebut. Aparat pemerintahan kecamatan dan kabupaten intens melakukan kunjungan ke desa-desa tak jarang mereka melakukan operasi mendadak (sidak) ke sebuah desa untuk mengontrol keseriusan warga desa tersebut.
Namun ironinya, pasca euforia kemenangan Piala Adipura Kencana yang biasanya diarak keliling kota, semuanya kembali ke siklus semula, mengikuti rotasi harian seperti hari-hari sebelumnya. Kegiatan Jumsih mulai kendur bahkan hanya untuk menggugurkan kewajiban semata. Aparat desa, kecamatan jarang lagi terjun langsung memantau kegiatan masyarakat. Mungkin warna Kuningan yang demikian bisa kita lihat belakangan ini. Hanya taman diperbatasan Cirebon-Kuningan dan di depan Pendopo Kuningan yang masih terlihat indah dan rapi. Namun ketika melihat taman-taman sepanjang ruas jalan raya utama—Desa Caracas, Cilimus, Bandorasa Wetan, Manislor, Maniskidul, Kramatmulya, Ciloa, belum lagi arah Kuningan timur menuju Kec. Luragung dan Kuningan selatan menuju Kec. Darma—semuanya begitu tidak terawat. Rumput dan ilalang sudah banyak yang tinggi bahkan ada yang menutupi bunganya. Bunga-bunga yang memanjang bak pagar tidak terurus rapi karena tingginya tidak sama rata. Selain itu pot-pot bunga banyak yang rusak di samping warnanya yang sudah kusam sehingga tidak sedap lagi dipandang mata. Haruskah kondisi ini menunggu Piala Adipura Kencana untuk meraih prestasi?
Masyarakat bahkan bangsa kita terkenal dengan sebuah masyarakat yang senang mencipta tapi malas memelihara. Padahal filosofinya adalah memelihara lebih sulit dibandingkan mencipta. Maka wajar banyak fasilitas umum yang cepat rusak seperti fasum-fasum di terminal, pusat perbelanjaan bahkan kantor-kantor pemerintah karena ketidakmampuan dalam pemeliharaan.Menjelang penganugrahan Adipura Kencana bukan saja K5 yang digalakkan oleh aparat pemerintah kabupaten tapi berbagai fasilitas umum yang sudah tidak elok dipandang mata akan segera dipoles habis. Namun lagi-lagi pertanyaannya adalah, haruskah semuanya menunggu Adipura Kencana?
Padahal seharusnya Pemkab. Kuningan menjadikan ajang Piala Adipura Kencana ini, sebagai titik awal membangkitkan semangat masyarakat untuk mencintai alam lingkungannya lebih-lebih lagi dalam konteks yang luas Kuningan tercinta. Dalam ilmu psikologi, membangkitkan emosi, semangat dan motivasi personal maupun komunitas akan lebih mudah ketika ada sebuah moment. Tragedi Tsunami di Propinsi Nanggro Aceh Darussalam (NAD) 26 Desember 2004 lalu, adalah sebuah contoh konkrit, dimana nilai kebersamaan, gotong-royong, persatuan dan kesatuan bangsa ini ternyata masih begitu luar biasa dan ini mesti dipertahankan, sebuah modal yang tidak dibisa ditakar dan dibeli oleh nominal rupiah. Begitu juga dengan semangat menjaga kebersihan lingkungan menjelang Piala Adipura Kencana, semestinya dijadikan sebuah tonggak awal motivasi bagi masyarakat. Ketika Adipura Kencana telah berada digenggaman tangan, semangat itu seharusnya dijaga kesinambungan dan kontinyuitasnya. Aparat pemerintahan pada semua level tetap konsisten dalam menjaga kondisi ini, biarkan situasi ini terus berjalan sampai semangat itu menjadi sebuah karakter dan budaya masayarakat.
Bila pada tahap pertama, targetnya adalah Piala Adipura Kencana, maka target selanjutnya adalah pendidikan karakter masyarakat untuk mencintai kebersihan dan kenyamanan lingkungan. Pencapaian karakter masyarakat yang demikian memerluan waktu yang cukup lama sehingga kunci utamanya adalah konsistensi aparat dalam pengawasan dan pengontrolan terhadap kegiatan-kegiatan masyarakat. Pemkab. Kuningan dan pihak Kecamatan harus intens mengadakan kontrol bahkan mungkin sekali-sekali sidak ke desa-desa untuk menghindarkan pola kerja ABS (asal Bapak Senang) yang biasa dilakukan oleh aparat-aparat dilevel bawah.
Kalau timbul pertanyaan, kenapa titik tekannya pada pengawasan karena penulis melihat, mayoritas aparat pemerintah kita jarang berpikir pada tataran substansi dalam memandang sebuah situasi. Mereka hanya mampu melihat wilayah permukaannya saja, seperti fenomena prestasi dalam Piala Adipura Kencana tidak lebih dari itu. Mereka pun kadang lebih pantas disebut sebagai komunitas (maaf) “budak”, dalam arti mereka hanya mengerti ketika ada instruksi tanpa ada kesadaran apalagi inisiatif yang datang dari pribadi dan tanggung jawab moralnya. Perspektif ini tidak menafikan adanya aparat yang inovatif dan proaktif dalam kinerjanya namun jumlahnya mungkin tidak lebih dari 10 persen dibandingkan aparat yang senantiasa “menunggu instruksi”.
Sebagai sebuah komunitas masyarakat yang sudah dikaruniai alam dengan panorama yang indah. Bahkan kesejukan dan kesegaran udara adalah siklus harian yang senantiasa menyelimuti seluruh kawasan. Padahal didaerah lain, unsur-unsur tersebut merupakan barang yang begitu mahal untuk didapat oleh masyarakatnya. Kuningan memiliki semuanya tanpa harus kita mengeluarkan kocek sepeserpun untuk menikmatinya. Ketenangan adalah bagian kebutuhan hidup yang tidak bisa dilepaskan dari setiap individu. Sehobi apapun seseorang akan keramaian, suatu waktu dia butuh sebuah ketenangan. Begitu pula cinta akan kebersihan, keindahan, kenyamanan adalah sifat dasar manusia. Bertolak dari paradigma ini, kita memang membutuhkan sesuatu yang bersifat bersih, nyaman, indah dan tenang. Inilah substansi pemikiran penulis, kenapa pemkab. Kuningan tidak mengajarkan nilai-nilai di atas sebagai sebuah kebutuhan hidup bukan sekedar untuk meraih prestasi. Penulis yakin, Adipura Kencana diadakan hanya sebagai media motivasi, pemacu bagi setiap daerah untuk menggalakkan kebersihan karena limit kesadaran bangsa kita yang baru timbul ketika ada nilai yang dikompetisikan. Padahal substansinya adalah pembentukan karakter dan budaya masyarakat untuk mencintai kebersihan. Sekarang kita melihat realitasnya, sebuah kegagalan dari memahamkan sebuah nilai-nilai luhur dari sebuah Adipura Kencana. Meskipun kita pernah meraihnya dua kali berturut-turut, tapi karena salah menanamkan motivasi. Masyarakat sekarang begitu apatis terhadap kebersihan, tak tersisa sama sekali. Kita sekarang melihat hampir seluruh kawasan di Kabupaten Kuningan kurang begitu terurus. Bahkan sebagian masyarakat sudah jarang kalau tidak mau dikatakan tidak pernah melaksanakan kegiatan Jumsih. Setiap aktivitas desa berjalan mengikuti arus air, tanpa ada inovasi sama sekali. Mereka lebih suka memperlihatkan hasil pembangunan fisik balai desa atau masjidnya yang megah tapi kualitas masyarakatnya rendah.
Tulisan ini mudah-mudahan mampu menyentakkan kesadaran kita. Dan penulis berharap kondisi “kemalasan” ini tidak berlangsung lebih lama lagi. Pemkab. Kuningan harus segera mengambil kebijakan. Jadikan sebuah proyek jangka panjang, pembentukan karakter masyarakat yang mencintai kebersihan, kenyamanan dan keindahan. Pola ini akan selaras dengan motto juang Kuningan ASRI. Jangan sampai motto tersebut hanya sekedar slogan yang terpampang disetiap desa, kecamatan tapi hilang substansinya. Jadwalkan secara rutin aparat pemerintah di kabupaten maupun kecamatan untuk mengawasi kinerja aparat desa dan kegiatan masyarakatnya, daripada mereka dikantor senantiasa “berkontemplasi” (bengong) atau mengobrol nothing. Masyarakat kita belum begitu bagus kesadarannya, mereka harus terus dibimbing dan diawasi. Semuanya butuh proses, secara bertahap akan menimbulkan kesadaran dan pada klimaksnya kegiatan bersih-bersih, menjaga kenyaman dan keindahan akan menjadi sebuah kebutuhan.
Bila sudah pada tahap tersebut, kita telah berhasil membentuk karakter masyarakat. Biarkan pola tersebut menjadi sebuah budaya karena bersifat positif. Penulis akan lebih bangga melihat karakter masyarakat yang terbentuk meskipun tanpa prestasi Adipura Kencana daripada sebuah prestasi tanpa sebuah substansi. (2007)

Sabda Alam

Tulisan dibawah ini tak sekedar untuk mendompleng nama besar sang maestro pop almarhum Chrisye lewat albumnya bertajuk Sabda Alam, yang tentunya sama dengan nama blog yang saya buat ini.

Jujur, saya begitu kagum dengan beliau. Terlebih dengan karya-karyanya yang begitu fenomenal dan monumental. Tak heran, jika blog yang kunamai dengan Sabda Alam ini, dengan sengaja pula kucari ide dengan kata kunci  ‘sabda alam’ lalu menuliskannya untuk kuposting pertama kalinya di blog ini. Dan pilihan jatuh pada album karya sang maestro Chrisye.

Ya, Sabda Alam adalah album dari penyanyi Chrisye yang dirilis pada tahun 1978. Nama album ini sekaligus menjadi judul single hits-nya yakni Sabda Alam. Selain itu ada lagu  yang tak kalah populernya yakni Kala Sang Surya Tenggelam dan Anak Jalanan yang diera tahun 90-an kemudian dijadikan sebuah themesong sinetron Ali Topan Anak Jalanan yang dibintangi oleh Ari Sihasale.

Album ini diarahkan oleh Jockie Surjoprajogo yang berperan sebagai music director.  Dan semua akan mafhum bila, sentuhan musisi bertangan dingin sekelas Jockie Surjoprajogo,  telah banyak menciptakan karakter album-album Chrisye. Lihat saja di album Chrisye lainnya seperti Badai Pasti Berlalu, dimana album ini didominasi oleh instrumen keyboards yang dimainkan Jockie dan Roni Harahap.

Album ini pun memuat lagu Smaradhana, karya Guruh Soekarnoputra yang dinyanyikan dengan nuansa gloomy pada album Guruh Gipsy, bahkan dibawakan dengan gaya hustle yang ceria. Selain itu pada album ini ada pula dua karya Guruh Soekarno Putera lainnya yang diambil dari film Ali Topan Anak Jalanan (1977) yaitu Anak Jalanan dan Kala Sang Surya Tenggelam.

Tak heran bila, oleh pengamat musik, seperti Denny Syakri, memasukkan album ini ke dalam 150 Album Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia pada tahun 2007 lalu.

10 lagu dari album Sabda Alam ini adalah:

  1. Juwita (Yockie/Chrisye/Junaesi S.)
  2. Sabda Alam (Chrisye / Junaedi Salat)
  3. Smaradhana (Guruh Soekarnoputra)
  4. Duka Sang Bahaduri (Yockie / Junaedi Salat)
  5. Cita Secinta (Yockie / Junaedi Salat / Chrisye)
  6. Kala Sang Surya Tenggelam (Guruh Soekarnoputra)
  7. Nada Asmara (Yockie / Junaedi Salat)
  8. Citra Hitam (Yockie/Chrisye/Junaesi S.)
  9. Adakah (Christ / Tommy)
  10. Anak Jalanan (Guruh Soekarnoputra)

Sumber: (wikipedia.com dan dennysak.multiply.com)

Tag Cloud