Bila kita melakukan perjalanan dari Kota Cirebon menuju Kuningan, menjelang wilayah Desa Sindangkasih terasa hawa dan udara yang berbeda. Begitu segar, sejuk, di samping itu kita pun dimanjakan dengan pemandangan pepohonan rindang sepanjang ruas jalan. Bahkan bukan itu saja, kita pun dipertontonkan kegagahan Gunung Ciremai yang menjulang tinggi seakan menyentuh langit dan menjadi pengawal Kota Kuningan.
Rangkaian kata di atas bukan sekedar cerita dan dongeng tapi realitas sampai hari ini. Sudah sepatutnya kita bangga dianugrahi alam Kuningan yang memiliki panorama indah. Kekaguman bukan hanya muncul dari masyarakatnya tapi juga dari setiap orang yang pernah mengunjungi Kuningan. Bahkan beberapa pejabat tinggi Jakarta menyatakan kekagumannya saat mengunjungi Kuningan.
Namun dalam kesempatan ini kami tidak mengulas sisi eksotik Kuningan, tapi sebagaimana judul tulisan ini kita akan sejenak beromantisme dengan Adipura Kencana yang telah mengharumkan nama Kuningan ditingkat nasional. Namun lebih dari itu, Adipura Kencana ‘pernah’ merubah warna Kuningan menjadi kota yang bersih dan rapi. Sayangnya itu semua hanya berjalan sesaat, temporal, karena hilangnya sebuah substansi yang begitu penting. Mungkin untuk mampu mengetahui akar permasalahannya, kita harus memutar jarum waktu (flash back) untuk mengingat-ingat kembali bagaimana suasana Kuningan menjelang penilaian anugrah lambang kebanggaan setiap kota itu.
Semarak ketertiban dan keindahan kota begitu terlihat dominan di berbagai sudut kota menjelang penilaian untuk penghargaan Adipura Kencana. Keindahan dan kerapihan bukan hanya terlihat di jalur utama Jalan Raya Kuningan-Cirebon tapi seluruh pelosok Kuningan. Setiap desa, jalanannya terlihat bersih, tamannya tertata rapi, apalagi desa-desa yang wilayahnya berada dijalur jalan raya Kuningan-Cirebon. Gerakan K5 (Kebersihan, Ketertiban, Keindahan, Ketenteraman, dan Kenyamanan) dan Jum’at Bersih (Jumsih) terjadwal ketat dan selalu dikontrol oleh pihak desa, kecamatan bahkan sekali-sekali ada tim pengawas dari kabupaten.
Mungkin kalau penulis boleh berkomentar, “itulah idealnya Kota Kuningan”. Warganya begitu peduli pada kebersihan, aparat desanya rajin membantu sekaligus mengontrol kegiatan kebersihan masyarakat. Seluruh fasilitas dan bangunan-bangunan pemerintah yang terlihat kusam langsung diganti dengan “baju” yang baru. Sehingga benar-benar Kuningan menjadi Kota yang indah, nyaman didukung dengan hawa yang sejuk. Tepatlan bila pada medio bulan-bulan tersebut Kuningan bermotto Aman, Sehat, Rindang dan Indah (ASRI), karena semuanya terlihat begitu sempurna. Itulah situasi Kuningan menjelang penilaian untuk Piala Adipura Kencana. Dan memang semua pihak mengakui “ketangguhan” Kuningan dalam penganugerahan lambang kebanggaan setiap kota ini. Kuningan secara fantastis pernah meraihnya secara berturut-turut pada tahun 1993 dan 1994.
Sebagai warga Kuningan, kebanggaan atas penganugerahan itu tentu ada, namun sayangnya harus diselimuti oleh kekecewaan yang begitu dalam. Kekecewaan ini penulis tujukan kepada masyarakat tapi lebih-lebih lagi kepada Pemkab. Kuningan. Ironi atau mungkin sebuah paradoks apa yang terjadi pada diri penulis. Dua kondisi psikis yang berbeda menyatu dalam satu situasi secara bersamaan. Sebuah Kebanggaan lahir, karena Kuningan tercinta mampu meraih Piala Adipura Kencana sebagai lambang kota yang bersih. Namun kekecewaan pun lahir, karena masyarakat dan aparat antusias untuk menciptakan kebersihan dan kenyamanan kota hanya untuk sebuah prestasi, bukannya menjadi sebuah kebutuhan.
Tapi secara prinsip, penulis harus menyalahkan pihak Pemkab. Kuningan karena sebagai pemegang kebijakan dan otoritas tertinggi mengajarkan masyarakat kepada sebuah nilai prestasi bukan substansi. Sebuah pola pendidikan yang hanya pantas diajarkan kepada anak-anak pada level Taman Kanak-Kanak (TK) bukan kepada masyarakat. Selain itu, cara inipun adalah sisa-sisa ajaran kaum kolonial yang hanya memerintah ketika ada keinginan. Perintahnya tidak memiliki essensi apapun, hanya sebatas perintah yang bersifat nisbi, tapi ironinya kenapa kita masih terus mengejewantahkannya dalam keseharian kita, bahkan oleh aparat pemerintahan kita yang terdidik dan hidup di dunia modern. Masyarakat di haruskan membersihkan bahkan mengecat taman halaman rumah mereka menjelang penilaian Piala Adipura Kencana. Fasilitas-fasilitas umum begitu mendapat perhatian menjelang hari-hari tersebut. Aparat pemerintahan kecamatan dan kabupaten intens melakukan kunjungan ke desa-desa tak jarang mereka melakukan operasi mendadak (sidak) ke sebuah desa untuk mengontrol keseriusan warga desa tersebut.
Namun ironinya, pasca euforia kemenangan Piala Adipura Kencana yang biasanya diarak keliling kota, semuanya kembali ke siklus semula, mengikuti rotasi harian seperti hari-hari sebelumnya. Kegiatan Jumsih mulai kendur bahkan hanya untuk menggugurkan kewajiban semata. Aparat desa, kecamatan jarang lagi terjun langsung memantau kegiatan masyarakat. Mungkin warna Kuningan yang demikian bisa kita lihat belakangan ini. Hanya taman diperbatasan Cirebon-Kuningan dan di depan Pendopo Kuningan yang masih terlihat indah dan rapi. Namun ketika melihat taman-taman sepanjang ruas jalan raya utama—Desa Caracas, Cilimus, Bandorasa Wetan, Manislor, Maniskidul, Kramatmulya, Ciloa, belum lagi arah Kuningan timur menuju Kec. Luragung dan Kuningan selatan menuju Kec. Darma—semuanya begitu tidak terawat. Rumput dan ilalang sudah banyak yang tinggi bahkan ada yang menutupi bunganya. Bunga-bunga yang memanjang bak pagar tidak terurus rapi karena tingginya tidak sama rata. Selain itu pot-pot bunga banyak yang rusak di samping warnanya yang sudah kusam sehingga tidak sedap lagi dipandang mata. Haruskah kondisi ini menunggu Piala Adipura Kencana untuk meraih prestasi?
Masyarakat bahkan bangsa kita terkenal dengan sebuah masyarakat yang senang mencipta tapi malas memelihara. Padahal filosofinya adalah memelihara lebih sulit dibandingkan mencipta. Maka wajar banyak fasilitas umum yang cepat rusak seperti fasum-fasum di terminal, pusat perbelanjaan bahkan kantor-kantor pemerintah karena ketidakmampuan dalam pemeliharaan.Menjelang penganugrahan Adipura Kencana bukan saja K5 yang digalakkan oleh aparat pemerintah kabupaten tapi berbagai fasilitas umum yang sudah tidak elok dipandang mata akan segera dipoles habis. Namun lagi-lagi pertanyaannya adalah, haruskah semuanya menunggu Adipura Kencana?
Padahal seharusnya Pemkab. Kuningan menjadikan ajang Piala Adipura Kencana ini, sebagai titik awal membangkitkan semangat masyarakat untuk mencintai alam lingkungannya lebih-lebih lagi dalam konteks yang luas Kuningan tercinta. Dalam ilmu psikologi, membangkitkan emosi, semangat dan motivasi personal maupun komunitas akan lebih mudah ketika ada sebuah moment. Tragedi Tsunami di Propinsi Nanggro Aceh Darussalam (NAD) 26 Desember 2004 lalu, adalah sebuah contoh konkrit, dimana nilai kebersamaan, gotong-royong, persatuan dan kesatuan bangsa ini ternyata masih begitu luar biasa dan ini mesti dipertahankan, sebuah modal yang tidak dibisa ditakar dan dibeli oleh nominal rupiah. Begitu juga dengan semangat menjaga kebersihan lingkungan menjelang Piala Adipura Kencana, semestinya dijadikan sebuah tonggak awal motivasi bagi masyarakat. Ketika Adipura Kencana telah berada digenggaman tangan, semangat itu seharusnya dijaga kesinambungan dan kontinyuitasnya. Aparat pemerintahan pada semua level tetap konsisten dalam menjaga kondisi ini, biarkan situasi ini terus berjalan sampai semangat itu menjadi sebuah karakter dan budaya masayarakat.
Bila pada tahap pertama, targetnya adalah Piala Adipura Kencana, maka target selanjutnya adalah pendidikan karakter masyarakat untuk mencintai kebersihan dan kenyamanan lingkungan. Pencapaian karakter masyarakat yang demikian memerluan waktu yang cukup lama sehingga kunci utamanya adalah konsistensi aparat dalam pengawasan dan pengontrolan terhadap kegiatan-kegiatan masyarakat. Pemkab. Kuningan dan pihak Kecamatan harus intens mengadakan kontrol bahkan mungkin sekali-sekali sidak ke desa-desa untuk menghindarkan pola kerja ABS (asal Bapak Senang) yang biasa dilakukan oleh aparat-aparat dilevel bawah.
Kalau timbul pertanyaan, kenapa titik tekannya pada pengawasan karena penulis melihat, mayoritas aparat pemerintah kita jarang berpikir pada tataran substansi dalam memandang sebuah situasi. Mereka hanya mampu melihat wilayah permukaannya saja, seperti fenomena prestasi dalam Piala Adipura Kencana tidak lebih dari itu. Mereka pun kadang lebih pantas disebut sebagai komunitas (maaf) “budak”, dalam arti mereka hanya mengerti ketika ada instruksi tanpa ada kesadaran apalagi inisiatif yang datang dari pribadi dan tanggung jawab moralnya. Perspektif ini tidak menafikan adanya aparat yang inovatif dan proaktif dalam kinerjanya namun jumlahnya mungkin tidak lebih dari 10 persen dibandingkan aparat yang senantiasa “menunggu instruksi”.
Sebagai sebuah komunitas masyarakat yang sudah dikaruniai alam dengan panorama yang indah. Bahkan kesejukan dan kesegaran udara adalah siklus harian yang senantiasa menyelimuti seluruh kawasan. Padahal didaerah lain, unsur-unsur tersebut merupakan barang yang begitu mahal untuk didapat oleh masyarakatnya. Kuningan memiliki semuanya tanpa harus kita mengeluarkan kocek sepeserpun untuk menikmatinya. Ketenangan adalah bagian kebutuhan hidup yang tidak bisa dilepaskan dari setiap individu. Sehobi apapun seseorang akan keramaian, suatu waktu dia butuh sebuah ketenangan. Begitu pula cinta akan kebersihan, keindahan, kenyamanan adalah sifat dasar manusia. Bertolak dari paradigma ini, kita memang membutuhkan sesuatu yang bersifat bersih, nyaman, indah dan tenang. Inilah substansi pemikiran penulis, kenapa pemkab. Kuningan tidak mengajarkan nilai-nilai di atas sebagai sebuah kebutuhan hidup bukan sekedar untuk meraih prestasi. Penulis yakin, Adipura Kencana diadakan hanya sebagai media motivasi, pemacu bagi setiap daerah untuk menggalakkan kebersihan karena limit kesadaran bangsa kita yang baru timbul ketika ada nilai yang dikompetisikan. Padahal substansinya adalah pembentukan karakter dan budaya masyarakat untuk mencintai kebersihan. Sekarang kita melihat realitasnya, sebuah kegagalan dari memahamkan sebuah nilai-nilai luhur dari sebuah Adipura Kencana. Meskipun kita pernah meraihnya dua kali berturut-turut, tapi karena salah menanamkan motivasi. Masyarakat sekarang begitu apatis terhadap kebersihan, tak tersisa sama sekali. Kita sekarang melihat hampir seluruh kawasan di Kabupaten Kuningan kurang begitu terurus. Bahkan sebagian masyarakat sudah jarang kalau tidak mau dikatakan tidak pernah melaksanakan kegiatan Jumsih. Setiap aktivitas desa berjalan mengikuti arus air, tanpa ada inovasi sama sekali. Mereka lebih suka memperlihatkan hasil pembangunan fisik balai desa atau masjidnya yang megah tapi kualitas masyarakatnya rendah.
Tulisan ini mudah-mudahan mampu menyentakkan kesadaran kita. Dan penulis berharap kondisi “kemalasan” ini tidak berlangsung lebih lama lagi. Pemkab. Kuningan harus segera mengambil kebijakan. Jadikan sebuah proyek jangka panjang, pembentukan karakter masyarakat yang mencintai kebersihan, kenyamanan dan keindahan. Pola ini akan selaras dengan motto juang Kuningan ASRI. Jangan sampai motto tersebut hanya sekedar slogan yang terpampang disetiap desa, kecamatan tapi hilang substansinya. Jadwalkan secara rutin aparat pemerintah di kabupaten maupun kecamatan untuk mengawasi kinerja aparat desa dan kegiatan masyarakatnya, daripada mereka dikantor senantiasa “berkontemplasi” (bengong) atau mengobrol nothing. Masyarakat kita belum begitu bagus kesadarannya, mereka harus terus dibimbing dan diawasi. Semuanya butuh proses, secara bertahap akan menimbulkan kesadaran dan pada klimaksnya kegiatan bersih-bersih, menjaga kenyaman dan keindahan akan menjadi sebuah kebutuhan.
Bila sudah pada tahap tersebut, kita telah berhasil membentuk karakter masyarakat. Biarkan pola tersebut menjadi sebuah budaya karena bersifat positif. Penulis akan lebih bangga melihat karakter masyarakat yang terbentuk meskipun tanpa prestasi Adipura Kencana daripada sebuah prestasi tanpa sebuah substansi. (2007)